Hari ini saya melanjutkan membaca artikel dari Mr.PlanB tentang penggunaan Proxmox di lingkungan production. Artikel ini membahas pengalaman beberapa system admin yang menggunakan Proxmox untuk menjalankan ratusan hingga lebih dari 10.000 VM.
Dari beberapa pembahasan tersebut, ada pembahasan yang menarik pada bagian penggunaan Ceph sebagai storage Proxmox, terutama mengenai risiko penggunaan Ceph dengan jumlah node yang sedikit.
Dalam artikel tersebut, seorang system admin yang menggunakan Ceph pada cluster dengan jumlah node cukup banyak. Namun, ada juga yang merasa bahwa penggunaan Ceph dengan tiga node masih berisiko ketika salah satu node mengalami kegagalan. Untuk kebutuhan production yang kritis, salah satu administrator lebih memilih minimal lima node. Tentunya, ini berdasarkan pengalaman dan pertimbangannya, bukan ketentuan wajib dari Ceph.
Pembahasan tersebut mengingatkan saya pada pengujian yang pernah saya lakukan menggunakan dua node Proxmox VE dengan Ceph Squid 19.2. Saat itu, saya menggunakan enam OSD dengan konfigurasi pool size 2 dan min_size 1.
Saya juga sempat melakukan pengujian dengan mematikan salah satu node untuk melihat dampaknya terhadap cluster. Hasilnya, VM yang sudah berjalan masih dapat beroperasi, tetapi pembuatan VM baru mengalami kendala karena cluster Proxmox kehilangan quorum.
Perlu dibedakan bahwa kendala tersebut berasal dari quorum Proxmox (Corosync), bukan langsung dari Ceph. Keduanya memiliki mekanisme quorum yang berbeda. Saya kemudian mencoba menambahkan Ceph MON eksternal dan mempelajari penggunaan QDevice untuk membantu quorum Proxmox.
Dari pengujian tersebut dan artikel yang saya baca, saya memahami bahwa penggunaan cluster dengan jumlah node sedikit memang perlu diperhatikan, terutama ketika salah satu node down dan mengalami kegagalan.
Pengujian saya sebelumnya masih sebatas lab untuk memahami mekanisme Proxmox dan Ceph. Namun, pengalaman tersebut cukup membantu saya memahami pembahasan dalam artikel bahwa cluster yang berhasil berjalan belum tentu langsung siap digunakan untuk production, terutama jika belum diuji bagaimana kondisinya ketika terjadi kegagalan node atau storage.
Saat testing integrasi Ceph sebagai primary storage CloudStack pada Rocky Linux 9, saya menemui kendala saat menambahkan storage dan membuat instance. Dua komponen masih menggunakan opsi auth_supported, yang ditolak library klien Ceph pada lab saya.
Perbaikannya adalah mengganti opsi tersebut menjadi auth_client_required. Untuk memudahkan penerapan ulang, saya menyiapkan dua script di GitHub.
Fungsi masing-masing script
Bagian A — fix-libvirt-rbd.sh: memperbaiki driver storage RBD libvirt untuk error failed to set RADOS option: auth_supported saat menambahkan primary storage.
Bagian B — fix-cloudstack-agent-rbd.sh: memperbaiki plugin KVM agent untuk error invalid conf option auth_supported saat konversi template atau disk instance.
Keduanya melakukan pengecekan sederhana, menyediakan backup dan rollback, serta melewati pemasangan jika komponen aktif sudah menggunakan opsi baru.
Persiapan
Ceph, pool RBD, konfigurasi klien, dan keyring harus sudah tersedia. Pastikan akses dari host KVM berhasil:
rbd --id cloudstack -p cloudstack-pool ls
Default script memakai Rocky 9 x86_64, libvirt 11.10.0-12.7.el9_8, dan CloudStack agent 4.23.0.0. Sesuaikan versi, URL, path, dan nama layanan melalui variabel di atas script. Patch tidak membutuhkan secret Ceph.
Build sebaiknya dilakukan pada mesin Rocky dengan rilis, arsitektur, dan repository klien Ceph yang sesuai host KVM:
sudo bash fix-libvirt-rbd.sh build
Hasilnya ada di /root/libvirt-rbd-backport/fixed.rpm. Jika mesin build terpisah, salin RPM ke path yang sama pada host KVM dan unduh script A di host tersebut. Kemudian pasang:
sudo bash fix-libvirt-rbd.sh install
Bagian A hanya memasang subpaket driver RBD hasil build, kemudian me-restart libvirt dan menghentikan sementara agent yang aktif.
Jalankan Bagian B
Pada host KVM:
sudo bash fix-cloudstack-agent-rbd.sh apply
Script compile ulang satu class Java, memeriksa API dan bytecode, lalu mengganti plugin dan menghentikan sementara agent yang aktif. Jalankan pemasangan ketika tidak ada deployment atau migrasi berlangsung.
Cek hasil dan rollback
Tunggu host dan primary storage berstatus Up, lalu coba deployment. Pastikan instance Running dan ROOT volume berada di storage Ceph. Patch ini menangani error kompatibilitas opsi RBD; kapasitas host, template, dan offering tetap harus sesuai.
Jika perlu mengembalikan perubahan, jalankan pada host KVM dengan direktori kerja yang sama:
Saya sedang menguji integrasi Ceph untuk dijadikan sebagai Primary Storage Apache CloudStack. Ceph disini saya menggunakan Ceph yang diinstall pada Proxmox VE. Pengujian dilakukan dengan konfigurasi berikut:
Komponen
IP
Versi
Management dan KVM
192.168.14.8
CloudStack 4.23, Rocky Linux 9.8, libvirt 11.10.0
Proxmox Ceph
192.168.14.4
Squid 19.2.6
Client Ceph pada host KVM kemudian diperbarui ke 19.2.6 untuk mendukung kunci aes256k. Catatan rilis resmi Ceph menjelaskan bahwa tipe kunci tersebut diperkenalkan pada rilis ini dan client perlu diperbarui agar dapat menggunakannya. [Baca: ceph.io]
Kendala
Setelah pembaruan, pengujian rbd ls berhasil dengan exit code 0. Artinya, operasi listing RBD berhasil menggunakan konfigurasi dan kredensial pada pengujian tersebut. Namun, saat menambahkan Primary Storage melalui CloudStack, prosesnya tetap gagal.
Penelusuran menemukan bahwa backend storage RBD libvirt 11.10.0 masih mengirim opsi auth_supported, sedangkan library Ceph yang digunakan menolak opsi tersebut. Masalah ini juga dilaporkan pada issue libvirt #918, yang membahas kegagalan storage pool dengan librados 19.2.6 dan 20.2.4. GitLab
Keberhasilan rbd ls belum membuktikan bahwa seluruh jalur integrasi sudah kompatibel. Penambahan storage melalui CloudStack melibatkan backend RBD libvirt, yang masih gagal ketika menyetel opsi autentikasi ke librados.
Pengecekan Log
Log journal libvirtd:
Oct 06 20:11:22 cs01.lab.internal libvirtd[30048]: internal error: failed to set RADOS option: auth_supported
Oct 06 20:11:58 cs01.lab.internal libvirtd[30048]: internal error: failed to set RADOS option: auth_supported
Oct 06 20:12:16 cs01.lab.internal libvirtd[30048]: internal error: failed to set RADOS option: auth_supported
Log dari /var/log/cloudstack/agent/agent.log:
2026-10-06 20:11:22,669 ERROR [kvm.storage.LibvirtStorageAdaptor] (AgentRequest-Handler-1:[]) (logid:2944b393) Failed to create RBD storage pool: org.libvirt.LibvirtException: internal error: failed to set RADOS option: auth_supported
2026-10-06 20:11:58,072 ERROR [kvm.storage.LibvirtStorageAdaptor] (AgentRequest-Handler-2:[]) (logid:2c9bcf38) Failed to create RBD storage pool: org.libvirt.LibvirtException: internal error: failed to set RADOS option: auth_supported
2026-10-06 20:12:16,544 ERROR [kvm.storage.LibvirtStorageAdaptor] (AgentRequest-Handler-5:[]) (logid:522e490d) Failed to create RBD storage pool: org.libvirt.LibvirtException: internal error: failed to set RADOS option: auth_supported
Ketiga percobaan menghasilkan error yang sama: libvirt gagal menyetel opsi RADOS auth_supported saat membuat storage pool.
Kasus serupa tercatat pada Apache CloudStack issue #13989. Laporan tersebut menggunakan CloudStack 4.22.1.1 dan Ceph Tentacle 20.2.4, sehingga menjadi pembanding dengan pesan error yang sama, sementara lab saya menggunakan CloudStack 4.23 dan Ceph Squid 19.2.6. GitHub
Solusi
Saya kemudian bertanya ke AI dengan memberikan detail infrastruktur, versi paket, hasil pengujian rbd ls, dan log error. AI menyarankan langkah berikut:
Memperbarui libvirt ke paket yang memuat perbaikan terkait, atau melakukan backport patch pada backend RBD libvirt agar menggunakan auth_client_required sebagai pengganti auth_supported.
Setelah perubahan diterapkan, melakukan restart libvirt dan CloudStack Agent.
Mencoba kembali penambahan Primary Storage melalui CloudStack.
Arah saran dari dokumentasi resmi Ceph menjelaskan opsi auth_client_required. Namun, diskusi patch pada mailing list resmi libvirt juga membahas penggunaan ketiga opsi auth_cluster_required, auth_service_required, dan auth_client_required untuk mempertahankan kondisi sebelumnya. Detail patch yang sesuai masih perlu dicari tahu lebih lanjut. Ceph Documentation
Sampai catatan ini ditulis, solusi belum saya terapkan dan akan diuji coba kembali pada artikel selanjutnya. Hasil baru sebatas rbd ls tanpa error dan temuan error auth_supported saat penambahan Primary Storage.
Saya memiliki Proxmox cluster yang terdiri dari pveceph1 dan pveceph2, dengan tiga OSD Ceph pada setiap node. Agar cluster tetap dapat dikelola dan storage Ceph tetap melayani I/O ketika salah satu node mati, saya menambahkan server Debian eksternal bernama cephmon3.
Server tersebut menjalankan dua layanan berbeda:
Ceph MON ketiga untuk menjaga quorum Ceph.
Corosync qnetd untuk memberikan vote QDevice kepada cluster PVE.
Ceph MON tidak menggantikan QDevice karena keduanya menangani quorum yang berbeda.
Topologi
Host
Layanan
pveceph1
PVE, MON, MGR, 3 OSD
pveceph2
PVE, MON, MGR, 3 OSD
cephmon3
Debian, MON, qnetd, tanpa OSD
cephmon3 harus berada pada server atau hypervisor independen. Jangan menyimpannya pada pveceph1, pveceph2, atau pool Ceph yang sama.
1. Memastikan MON dan MGR pada kedua node
Dari GUI Proxmox, buka node > Ceph > Monitor. Pastikan layanan berikut sudah terdaftar:
MON pada pveceph1 dan pveceph2.
MGR pada pveceph1 dan pveceph2, dengan satu active dan satu standby.
Jika ada yang belum tersedia, pilih node terkait lalu klik Create pada bagian Monitor atau Manager.
Lanjutkan ketika kedua MON PVE sudah berada dalam quorum.
2. Menyiapkan server cephmon3
Saya menggunakan Debian 13 minimal dengan 2 vCPU, RAM 4 GB, disk lokal 32 GB, IP statis, SSH server, dan tanpa desktop environment.
Pastikan hostname konsisten:
hostnamectl set-hostname cephmon3
hostnamectl
Tambahkan resolusi hostname ketiga server melalui DNS internal atau /etc/hosts. Pastikan waktu tersinkronisasi:
Jika Debian dipasang menggunakan ISO DVD, nonaktifkan sumber deb cdrom: dan pastikan repository online Debian Trixie sudah aktif sebelum menjalankan apt update.
3. Mengatur firewall (untuk production)
Untuk lingkungan produksi, firewall sebaiknya tetap aktif dan hanya membuka koneksi yang diperlukan:
Port
Arah
Fungsi
TCP 3300 dan 6789
Antara ketiga host MON
Komunikasi Ceph MON
TCP 5403
pveceph1/pveceph2 ke cephmon3
Corosync qnetd
TCP 22
Jaringan administrator ke cephmon3
SSH administrasi
Jika menggunakan Proxmox Firewall, tambahkan rule Ceph pada kedua node PVE dan izinkan IP cephmon3. Pada server Debian, izinkan IP kedua node PVE menuju port MON dan qnetd.
Untuk lab lokal yang terisolasi, firewall dapat dinonaktifkan sementara agar pengujian lebih mudah. Namun, jangan menggunakan cara tersebut pada lingkungan produksi dan aktifkan kembali firewall setelah pengujian selesai.
ID MON harus konsisten. Karena service bernama ceph-mon@cephmon3, direktori datanya harus bernama ceph-cephmon3 dan konfigurasi menggunakan [mon.cephmon3].
Dengan QDevice, pvecm expected 1 tidak perlu digunakan sebagai konfigurasi permanen.
8. Memeriksa konfigurasi pool
Untuk cluster dengan OSD hanya pada dua host, pool dibuat terlebih dahulu dengan size 3/min_size 2, kemudian diedit menjadi size 2/min_size 1 pada pvecephpool dan .mgr.
ceph osd pool get pvecephpool size
ceph osd pool get pvecephpool min_size
ceph osd pool get .mgr size
ceph osd pool get .mgr min_size
Nilai min_size 1 membuat storage tetap menerima I/O dari satu replika ketika satu node OSD mati, tetapi Ceph akan berada dalam kondisi degraded dan risiko kehilangan data meningkat.
9. Melakukan pengujian
Matikan salah satu node PVE melalui GUI, kemudian periksa dari node yang masih hidup:
pvecm status
ceph -s
ceph mon stat
Hasil yang diharapkan:
PVE tetap quorate menggunakan satu node dan QDevice.
Ceph tetap memiliki quorum melalui satu MON PVE dan cephmon3.
VM pada node yang masih hidup tetap berjalan.
Storage tetap dapat menerima I/O, tetapi berstatus degraded sampai node kedua kembali.
VM pada node yang mati hanya dapat otomatis menyala di node lainnya jika telah dikonfigurasi sebagai resource HA dan kapasitas node yang tersisa mencukupi.
Kesimpulan
Penambahan cephmon3 menyelesaikan dua kebutuhan pada cluster dua node: Ceph memperoleh MON ketiga, sedangkan Proxmox memperoleh vote tambahan dari QDevice. Solusi ini dapat menggunakan Debian ringan tanpa menambah node PVE ketiga, tetapi tetap merupakan desain kompromi karena data OSD hanya tersimpan pada dua host.
Saya ditugaskan untuk membuat cluster Proxmox VE yang terdiri dari dua node dan menggunakan Ceph sebagai shared storage. Setelah konfigurasi selesai, kemudian saya ditugaskan untuk melakukan pengujian dengan mematikan salah satu node untuk mengetahui kondisi VM, quorum Proxmox, dan quorum Ceph.
Eksperimen ini juga menguji solusi sementara berupa penghapusan Ceph Monitor pada pveceph2 dan penggunaan pvecm expected 1. Hasilnya menunjukkan bahwa quorum Proxmox/Corosync, quorum Ceph Monitor, dan redundansi data Ceph merupakan tiga hal berbeda yang harus ditangani secara terpisah.
Catatan: Konfigurasi dua node, satu Ceph Monitor, serta pool size 2/min_size 1 pada artikel ini digunakan untuk eksperimen. Konfigurasi tersebut bukan rekomendasi untuk lingkungan produksi.
Lingkungan Pengujian
Komponen
Konfigurasi
Proxmox VE
9.2.10
Kernel
7.0.14-12-pve
Ceph
Squid 19.2.5
Node 1
pveceph1
Node 2
pveceph2
OSD
3 OSD pada setiap node, total 6 OSD
Pool
pvecephpool
Replikasi pool
size 2, min_size 1
VM pengujian
Alpine Linux pada pveceph1 dengan disk di pvecephpool
Pada konfigurasi ini, size 2 membuat Ceph menyimpan dua salinan data. Sementara itu, min_size 1 mengizinkan I/O tetap berjalan ketika hanya tersedia satu salinan. Konfigurasi ini membantu pengujian dua node, tetapi meningkatkan risiko kehilangan data ketika penulisan berlangsung tanpa redundansi. Dokumentasi Proxmox Ceph juga memperingatkan bahwa replicated pool dengan min_size 1 dapat menyebabkan kehilangan data atau PG menjadi tidak lengkap jika salinan terakhir bermasalah.
1. Membuat Cluster Proxmox Dua Node
Pembuatan cluster dapat dilakukan melalui GUI Proxmox.
Membuat cluster pada pveceph1
Login ke GUI pveceph1.
Buka Datacenter → Cluster.
Klik Create Cluster.
Masukkan nama cluster.
Pilih jaringan Corosync yang akan digunakan pada bagian Cluster Network.
Klik Create.
Setelah cluster terbentuk, klik Join Information, lalu salin informasi yang ditampilkan.
Menggabungkan pveceph2
Login ke GUI pveceph2.
Buka Datacenter → Cluster.
Klik Join Cluster.
Tempel informasi dari pveceph1.
Masukkan password root milik pveceph1.
Pastikan alamat jaringan Corosync sudah sesuai.
Klik Join.
Node yang akan bergabung sebaiknya belum memiliki VM atau konfigurasi penting karena konfigurasi cluster pada node tersebut akan disesuaikan dengan cluster tujuan. Langkah GUI ini sesuai dengan panduan Proxmox VE Cluster Manager.
Periksa halaman Datacenter → Cluster setelah proses selesai. Pastikan pveceph1 dan pveceph2 terlihat berstatus online.
2. Menginstal dan Mengonfigurasi Ceph
Menginstal Ceph pada kedua node
Lakukan langkah berikut pada pveceph1 dan pveceph2:
Pilih nama node pada panel kiri.
Buka menu Ceph.
Klik Install Ceph atau ikuti wizard instalasi yang muncul.
Pilih Ceph Squid dan repository yang sesuai.
Selesaikan instalasi paket.
Pada node pertama, lanjutkan dengan inisialisasi konfigurasi Ceph. Tentukan Public Network dan Cluster Network sesuai jaringan yang sudah disiapkan. Node kedua menggunakan konfigurasi Ceph yang sudah tersimpan pada cluster, sehingga tidak perlu membuat cluster Ceph baru.
Periksa halaman konfigurasi Ceph.
Membuat Ceph Monitor
Pada konfigurasi awal eksperimen, MON dibuat pada kedua node:
Buka Ceph → Monitor.
Klik Create.
Pilih pveceph1, kemudian buat MON.
Ulangi untuk pveceph2.
Jika wizard konfigurasi sudah otomatis membuat MON pada pveceph1, cukup buat MON tambahan pada pveceph2.
Dengan dua MON, quorum membutuhkan keduanya aktif atau 2 dari 2 MON. Artinya, konfigurasi ini belum dapat menoleransi kegagalan satu MON. Ceph merekomendasikan sedikitnya tiga MON untuk produksi dan jumlah MON ganjil agar mayoritas tetap dapat terbentuk ketika satu MON gagal.
Periksa halaman Ceph → Monitor yang menampilkan MON pveceph1 dan pveceph2 dalam kondisi aktif serta berada dalam quorum.
Membuat enam OSD (Sesuaikan dengan kebutuhan)
Setiap node pada lab ini memiliki tiga disk khusus OSD.
Pilih node yang akan dikonfigurasi.
Buka Ceph → OSD.
Klik Create: OSD.
Pilih disk kosong yang akan digunakan.
Pastikan disk yang dipilih tidak berisi data penting.
Klik Create.
Ulangi hingga tersedia tiga OSD pada setiap node.
Peringatan: Pembuatan OSD akan menghapus isi disk yang dipilih. Periksa nama dan kapasitas disk sebelum menekan Create.
Periksa halaman Ceph → OSD atau tampilan CRUSH yang menunjukkan enam OSD berstatus up dan in, masing-masing tiga OSD di bawah pveceph1 dan pveceph2.
Membuat pool Ceph
Buka Ceph → Pools.
Klik Create.
Isi nama pool dengan pvecephpool.
Buat pool terlebih dahulu dengan Size3 dan Min. Size2.
Pilih CRUSH rule yang menempatkan replika pada host berbeda.
Aktifkan opsi penambahan storage jika tersedia, lalu klik Create.
Setelah pvecephpool berhasil dibuat, ubah konfigurasinya menjadi size 2/min_size 1:
Pilih pool pvecephpool, lalu klik Edit.
Ubah Size dari 3 menjadi 2.
Ubah Min. Size dari 2 menjadi 1.
Simpan perubahan.
Pilih pool internal .mgr, lalu klik Edit.
Ubah Size dan Min. Size pada .mgr menjadi 2 dan 1.
Simpan perubahan dan tunggu proses penyesuaian PG selesai.
Catatan: Pada eksperimen ini, konfigurasi 2/1 tidak langsung diterapkan ketika membuat pool. Pool dibuat lebih dahulu dengan nilai 3/2, kemudian pvecephpool dan pool internal .mgr diedit menjadi 2/1. Jika hanya pvecephpool yang diubah, .mgr masih menggunakan 3/2 dan Ceph dapat tetap menampilkan peringatan karena cluster hanya memiliki dua host OSD. Pool .mgr tidak perlu dihapus; cukup sesuaikan nilai replikasinya.
Jika pool belum muncul sebagai storage Proxmox, buka Datacenter → Storage → Add → RBD, lalu pilih pvecephpool sebagai pool. Aktifkan jenis konten Disk image sesuai kebutuhan.
3. Membuat VM Pengujian pada Ceph
Klik Create VM.
Tempatkan VM pada pveceph1.
Gunakan ISO Alpine Linux atau sistem operasi ringan lainnya.
Pada bagian disk, pilih pvecephpool sebagai storage.
Selesaikan instalasi, kemudian jalankan VM.
Pastikan status VM Running sebelum pengujian dimulai.
Sebelum mematikan node, pastikan status Ceph normal, kedua MON berada dalam quorum, dan seluruh OSD berstatus up serta in.
Periksa halaman Hardware VM yang menunjukkan disk berada di pvecephpool dan pastikan VM berstatus Running.
4. Pengujian Pertama: Mematikan pveceph2
Node kedua dimatikan langsung melalui GUI:
Pilih pveceph2 pada panel kiri.
Klik Shutdown.
Konfirmasi proses shutdown.
Tunggu hingga pveceph2 benar-benar tidak aktif.
Setelah itu, pemeriksaan dilakukan melalui GUI pveceph1.
Hasil pengujian
VM Alpine pada pveceph1 tetap berstatus Running.
MON pveceph2 tidak aktif sehingga dua MON tidak dapat membentuk mayoritas.
Tiga OSD milik pveceph2 menjadi down dan PG kehilangan satu salinan data.
Cluster Proxmox kehilangan quorum karena hanya tersedia satu dari dua vote Corosync.
Pembuatan VM baru tidak dapat dilakukan karena pmxcfs menjadi read-only ketika cluster Proxmox tidak quorate.
VM yang sudah berjalan dapat tetap aktif karena proses QEMU masih berjalan dan jalur data Ceph tidak selalu langsung berhenti ketika MON tidak memiliki quorum. Namun, kondisi tersebut tidak boleh dianggap sebagai jaminan ketersediaan. Perubahan peta cluster, koneksi baru, atau gangguan tambahan tetap dapat menyebabkan I/O berhenti.
VM tetap running (dapat di ping) namun tidak dapat diakses.
5. Menghapus MON pveceph2
Pengujian berikutnya bertujuan memastikan MON pada node yang mati tidak lagi menjadi bagian dari quorum Ceph. Sebelum menghapus MON, pveceph2 dinyalakan kembali dan ditunggu hingga cluster Proxmox serta Ceph kembali normal.
Jika GUI tidak dapat digunakan, perintah berikut dapat dijalankan melalui menu Shell pada pveceph2 ketika node masih aktif dan quorum tersedia:
pveceph mon destroy pveceph2
Pada eksperimen ini yang dihapus hanya service MON. OSD pada pveceph2 tetap dipertahankan sebagai bagian dari pool.
Mengulangi pengujian shutdown
Setelah MON pveceph2 berhasil dihapus, node tersebut kembali dimatikan melalui GUI. Hasilnya:
VM pada pveceph1 tetap Running.
MON tunggal pveceph1 dapat membentuk quorum 1 dari 1.
Error quorum MON yang sebelumnya terjadi tidak lagi menjadi penghambat.
Ceph tetap menampilkan kondisi degraded atau undersized karena tiga OSD pada pveceph2 tidak tersedia.
Cluster Proxmox tetap tidak quorate karena Corosync masih hanya memiliki satu dari dua vote.
Pembuatan VM atau perubahan konfigurasi tetap terblokir pada sisi Proxmox.
Penghapusan MON kedua hanya mengubah quorum Ceph. Langkah ini tidak memperbaiki quorum Proxmox dan tidak mengembalikan redundansi data Ceph.
Pengujian pembuatan VM gagal
6. Menggunakan pvecm expected 1 untuk Pengujian
Dalam pengujian ini, perintah berikut dijalankan melalui pveceph1 → Shell setelah dipastikan bahwa pveceph2 benar-benar mati:
pvecm expected 1
Perintah tersebut mengubah jumlah vote yang diharapkan menjadi satu sehingga pveceph1 kembali quorate. Setelah itu, pmxcfs dapat ditulis kembali dan pengujian melalui GUI dapat dilanjutkan. Pada lab ini, pembuatan VM baru digunakan hanya untuk membuktikan bahwa hambatan sebelumnya berasal dari quorum Proxmox.
Peringatan:pvecm expected 1 merupakan tindakan pemulihan sementara, bukan konfigurasi permanen untuk cluster dua node. Jalankan hanya setelah node lain dipastikan benar-benar mati atau sudah di-fence. Jangan menjalankannya pada dua sisi yang terpisah karena dapat menyebabkan split-brain dan perubahan konfigurasi yang saling bertentangan. Dokumentasi Proxmox menempatkan perintah ini sebagai workaround ketika quorum hilang dan memperingatkan agar perubahan yang memengaruhi cluster tidak dilakukan dalam kondisi vote dipaksa. Untuk produksi, QDevice direkomendasikan sebagai vote ketiga pada cluster dua node.
Ringkasan Hasil Pengujian
Kondisi
Quorum Proxmox
Quorum Ceph MON
Kondisi data Ceph
VM yang sudah berjalan
Perubahan konfigurasi/VM baru
Kedua node aktif, dua MON
Ada
2/2
Normal
Berjalan
Bisa
pveceph2 mati, dua MON masih terdaftar
Tidak ada
Tidak ada, hanya 1/2
Degraded, satu replika tersisa
Tetap berjalan pada pengujian
Tidak bisa
pveceph2 mati, MON-nya sudah dihapus
Tidak ada
Ada, 1/1
Degraded, satu replika tersisa
Tetap berjalan pada pengujian
Tidak bisa
Kondisi sebelumnya + pvecm expected 1
Ada secara paksa
Ada, 1/1
Tetap degraded
Tetap berjalan pada pengujian
Dapat diuji melalui GUI
Tabel tersebut menunjukkan bahwa MON Ceph dan quorum Corosync bekerja secara independen. Memperbaiki salah satunya tidak otomatis memperbaiki komponen lain.
Solusi Implementasi Dua Node
Menggunakan satu MON memang membuat Ceph memiliki quorum 1/1, tetapi seluruh cluster bergantung pada pveceph1. Jika MON tersebut mati, Ceph tidak memiliki MON lain untuk mengambil alih. Karena itu, konfigurasi ini hanya sesuai untuk membuktikan perilaku sistem dalam lab.
Untuk implementasi dua node yang mempertimbangkan biaya subscription Proxmox, rencana pengujian berikutnya adalah menambahkan satu VM atau server Linux independen. Perannya mirip witness, tetapi komponen yang digunakan berbeda untuk Proxmox dan Ceph.
1. QDevice untuk quorum Proxmox
Pada sisi Proxmox/Corosync, server independen menjalankan corosync-qnetd. Kedua node PVE kemudian menggunakan QDevice untuk memperoleh vote ketiga. Dengan demikian, satu node PVE yang masih aktif bersama QDevice dapat mempertahankan quorum. Proxmox secara resmi merekomendasikan QDevice untuk cluster dua node yang membutuhkan ketersediaan lebih baik pada panduan Proxmox VE Cluster Manager.
2. MON ketiga untuk quorum Ceph
Pada sisi Ceph tidak terdapat QDevice yang sama seperti Corosync. Solusinya adalah menjalankan Ceph Monitor ketiga pada server atau VM independen. Sebelum pengujian ini dilakukan, MON pveceph2 perlu dibuat kembali sehingga susunannya menjadi:
MON pveceph1;
MON pveceph2;
MON ketiga pada host independen.
Dengan tiga MON, Ceph dapat mempertahankan quorum ketika satu MON mati karena masih tersedia dua dari tiga MON. MON ketiga adalah MON penuh yang menyimpan cluster map dan ikut melakukan voting, bukan sekadar QDevice. Prinsip mayoritas dan rekomendasi minimal tiga MON dijelaskan pada dokumentasi Adding/Removing Monitors.
Jika MON ketiga ditempatkan pada VM, disk dan proses boot VM tersebut tidak boleh bergantung pada pvecephpool yang sedang dilindungi. VM harus berjalan pada host, storage, dan jalur daya yang independen agar tidak terjadi ketergantungan melingkar.
Untuk lab atau lingkungan dengan sumber daya terbatas, satu server independen dapat diuji untuk menjalankan corosync-qnetd dan Ceph MON ketiga. Keduanya tetap merupakan service berbeda dan harus diuji secara terpisah. Kompatibilitas versi Ceph, prosedur pemeliharaan, serta dukungan vendor perlu dipastikan sebelum digunakan pada produksi.
3. MON ketiga tidak menambah replika data
Penambahan MON ketiga hanya mempertahankan quorum monitor. Ketika pveceph2 mati, tiga OSD di node tersebut tetap hilang dan pool size 2/min_size 1 hanya dapat melanjutkan I/O dengan satu salinan data jika PG masih aktif. Ceph tetap dapat menampilkan HEALTH_WARN, degraded, atau undersized.
Jika dibutuhkan redundansi storage yang benar-benar dapat menoleransi kegagalan satu host tanpa berjalan pada satu salinan, diperlukan host OSD ketiga atau desain storage lain yang sesuai. Backup eksternal juga tetap wajib karena replikasi Ceph bukan pengganti backup.
Pertimbangan Biaya Subscription
Jika pada lingkungan produksi menggunakan subscription Proxmox, setiap server fisik Proxmox VE harus dicakup sesuai jumlah CPU socket yang digunakan, dan seluruh node dalam satu cluster menggunakan tingkat subscription yang sama. Karena itu, menambahkan node PVE ketiga dapat meningkatkan biaya subscription. Ketentuan ini dapat dilihat pada Proxmox Subscription FAQ.
Alternatif berupa server Linux independen yang hanya menjalankan QDevice dan Ceph MON dapat menghindari penambahan node PVE ketiga. Namun, desain ini menggunakan MON eksternal yang dikelola secara manual.
Rencana Pengujian Berikutnya
Sesuai arahan yang ditugaskan pada saya, pengujian selanjutnya berfokus pada penambahan Ceph MON di luar cluster PVE agar jumlah MON menjadi 3 dan min_size menjadi 2 dan quorum Ceph tetap tersedia ketika salah satu node PVE mati. Host eksternal akan berperan mirip QDevice, tetapi menjalankan Ceph MON penuh.
Topologi yang akan diuji:
Host
Cluster PVE
Service Ceph
pveceph1
Cluster pveceph
MON dan 3 OSD
pveceph2
Cluster pveceph
MON dan 3 OSD
PVE standalone atau Linux lain
Di luar cluster
MON eksternal tanpa OSD
Tahapan pengujiannya adalah sebagai berikut:
Menyiapkan PVE standalone atau server/VM Linux pada infrastruktur dan storage yang independen dari pvecephpool.
Memasang paket Ceph yang kompatibel dengan Ceph Squid 19.2.5 pada host eksternal.
Menyalakan pveceph2 dan membuat kembali MON pada node tersebut.
Menambahkan Ceph MON ketiga pada host eksternal.
Memastikan ketiga MON berstatus aktif dan membentuk quorum 3/2.
Kesimpulan
Pada eksperimen ini, VM di pveceph1 tetap berjalan ketika pveceph2 dimatikan, tetapi pembuatan VM baru terblokir karena cluster Proxmox kehilangan quorum. Menghapus MON pveceph2 membuat MON tunggal pveceph1 memiliki quorum 1/1, sedangkan pvecm expected 1 memungkinkan pengujian lanjutan pada sisi Proxmox.
Kedua tindakan tersebut hanya solusi sementara untuk lab. Desain dua node yang lebih tepat membutuhkan QDevice untuk quorum Proxmox dan MON ketiga pada host independen untuk quorum Ceph. Jika targetnya juga mempertahankan redundansi data ketika satu node mati, MON ketiga saja tidak cukup—dibutuhkan OSD pada host ketiga atau arsitektur storage lain yang sesuai.
Ceph umumnya menggunakan minimal tiga Monitor untuk menyediakan quorum dan redundansi. Namun, pada pengujian ini saya mencoba menjalankan cluster Proxmox VE dua node dengan hanya satu Ceph Monitor.
Tujuan pengujian ini adalah mengetahui kondisi VM dan storage Ceph ketika node kedua dimatikan, serta memastikan apakah VM baru masih dapat dibuat pada node yang tetap aktif.
Konfigurasi Homelab
Pengujian dilakukan menggunakan konfigurasi berikut:
Komponen
Konfigurasi
Proxmox VE
9.2.10
Ceph
19.2.5 Squid
Node pertama
pveceph1 – 192.168.14.57
Node kedua
pveceph2 – 192.168.14.58
Jumlah OSD
6 OSD
OSD pveceph1
osd.3, osd.4, dan osd.5
OSD pveceph2
osd.0, osd.1, dan osd.2
Storage VM
pvecephpool
Pool replica
size=2
Minimum replica
min_size=1
Ceph Monitor
Hanya di pveceph1
VM pengujian
Alpine Linux di pveceph1
Pada kondisi awal, kedua node aktif, enam OSD berstatus up/in, seluruh Placement Group berstatus active+clean, dan Ceph menunjukkan status HEALTH_OK.
Mengubah Ceph Menjadi Satu Monitor
Awalnya Ceph memiliki dua Monitor, yaitu:
pveceph1
pveceph2
Sebelum Monitor kedua dihapus, dilakukan pemeriksaan untuk memastikan bahwa mon.pveceph2 aman dikeluarkan dari monmap. Hasil pemeriksaan menunjukkan:
root@pveceph1:~# ceph mon ok-to-rm pveceph2
safe to remove mon.pveceph2
Monitor pveceph2 kemudian dihapus melalui Proxmox Web GUI dengan langkah berikut:
Pilih node pveceph2.
Buka menu Ceph → Monitor.
Pilih Monitor pveceph2.
Klik Destroy.
Konfirmasi penghapusan dan tunggu sampai proses selesai.
Alternatifnya, penghapusan Monitor dapat dilakukan melalui CLI pada node pveceph2:
pveceph mon destroy pveceph2
Proses tersebut hanya menghapus fungsi Ceph Monitor pada pveceph2. Node Proxmox, tiga OSD, dan layanan Ceph lainnya pada node tersebut tetap dipertahankan.
Setelah proses selesai, Ceph hanya memiliki satu Monitor aktif, yaitu pveceph1, dengan quorum 1/1.
Dokumentasi Ceph menjelaskan:
“A cluster will run fine with a single Monitor; however, a single Monitor is a single-point-of-failure.”
Artinya, satu Monitor tetap dapat melayani cluster Ceph. Namun, jika Monitor tersebut gagal, tidak ada Monitor lain yang dapat mengambil alih. Ceph Monitor Configuration Reference.
Membuat VM Pengujian
Selanjutnya, dibuat satu VM Alpine Linux dengan ketentuan berikut:
VM ditempatkan di node pveceph1.
Disk VM menggunakan storage pvecephpool.
VM tidak dimasukkan ke dalam konfigurasi Proxmox HA.
VM dinyalakan sebelum proses pengujian dimulai.
Melalui Web GUI, VM dipastikan telah berstatus Running dan disk-nya menggunakan storage Ceph.
Mematikan pveceph2
Setelah VM Alpine berjalan, node pveceph2 dimatikan melalui Proxmox Web GUI:
Pilih node pveceph2.
Klik tombol Shutdown.
Konfirmasi proses shutdown.
Tunggu sampai node benar-benar berstatus offline.
Setelah pveceph2 mati, pemeriksaan dilakukan melalui Web GUI pada pveceph1, meliputi:
Status VM Alpine pada halaman Summary.
Status node pada halaman Datacenter.
Status Ceph pada menu Ceph.
Status Monitor pada menu Ceph → Monitor.
Status OSD pada menu Ceph → OSD.
Status storage pvecephpool.
Percobaan membuat VM baru di pveceph1.
Hasil Pengujian
VM yang sudah berjalan tetap running
Setelah pveceph2 dimatikan, VM Alpine di pveceph1 tetap berstatus Running.
Hal ini terjadi karena:
Ceph Monitor pveceph1 tetap memiliki quorum 1/1.
Tiga OSD di pveceph1 masih aktif.
Pool menggunakan min_size=1.
Proses VM telah berjalan di pveceph1.
Meskipun VM tetap berjalan, Ceph berada dalam kondisi degraded karena tiga OSD pada pveceph2 sudah tidak tersedia.
Dengan size=2 dan min_size=1, Ceph masih dapat melayani I/O menggunakan satu replica yang tersedia. Namun, data pada kondisi tersebut hanya memiliki satu salinan aktif.
Dokumentasi Ceph memperingatkan bahwa penggunaan size=2 atau min_size=1 memiliki risiko kehilangan data dan tidak direkomendasikan sebagai konfigurasi normal untuk production. Dokumentasi Ceph Pool.
VM baru tidak dapat dibuat
Ketika dilakukan percobaan membuat VM baru di pveceph1, proses tersebut gagal walaupun storage Ceph masih dapat diakses.
Kegagalan ini bukan disebabkan oleh single Ceph Monitor, melainkan karena cluster Proxmox kehilangan quorum.
Cluster Proxmox masih mengharapkan dua vote, sedangkan setelah pveceph2 dimatikan hanya tersedia satu vote dari pveceph1. Akibatnya, Proxmox Cluster File System atau pmxcfs berubah menjadi read-only.
Dokumentasi Proxmox menjelaskan salah satu karakteristik pmxcfs sebagai berikut:
“Read-only when a node loses quorum.”
Karena konfigurasi VM disimpan di dalam /etc/pve, Proxmox tidak dapat menulis konfigurasi VM baru ketika cluster tidak memiliki quorum. Dokumentasi Proxmox pmxcfs.
Ringkasan Hasil
Pengujian
Hasil
Ceph Monitor pveceph2 dihapus
Berhasil
Ceph berjalan dengan satu Monitor
Berhasil, quorum 1/1
pveceph2 dimatikan
Berhasil
VM Alpine di pveceph1
Tetap running
Storage Ceph
Tetap tersedia, tetapi degraded
OSD pada pveceph2
Down
Membuat VM baru di pveceph1
Gagal
Penyebab kegagalan
PVE/Corosync kehilangan quorum
Pengujian Lanjutan
Untuk kebutuhan lab, jumlah expected vote dapat diubah sementara menjadi satu:
pvecm expected 1
Perintah tersebut dapat membuat pveceph1 kembali memiliki quorum sehingga pengujian pembuatan VM baru dapat dilanjutkan.
Namun, perintah ini hanya boleh digunakan setelah memastikan pveceph2 benar-benar mati, bukan sekadar terputus dari jaringan. Penggunaannya dalam kondisi node lain masih aktif dapat menimbulkan risiko split-brain.
Untuk cluster Proxmox dua node yang digunakan secara permanen, Proxmox merekomendasikan QDevice sebagai vote ketiga. Dokumentasi Proxmox Cluster Manager.
Kesimpulan
Pengujian menunjukkan bahwa satu Ceph Monitor di pveceph1 tetap dapat melayani storage ketika pveceph2 dimatikan. VM Alpine yang sudah berjalan tetap berstatus Running karena Ceph masih memiliki MON quorum 1/1 dan pool memperbolehkan I/O dengan satu replica.
Namun, VM baru tidak dapat dibuat karena cluster Proxmox kehilangan quorum dan pmxcfs berubah menjadi read-only. Dengan demikian, kegagalan pembuatan VM baru berasal dari quorum PVE/Corosync, bukan dari quorum Ceph.
Konfigurasi satu Ceph Monitor dan pool size=2/min_size=1 dapat digunakan untuk eksperimen, tetapi tidak direkomendasikan untuk production karena tidak memiliki redundansi Monitor dan hanya menyisakan satu salinan data ketika salah satu node mati.
Dalam pengujian NAKIVO Backup & Replication, saya menemukan bahwa replikasi VM Proxmox kembali menjadi full setelah VM sempat reboot. Kondisi ini berkaitan dengan Change Block Tracking (CBT) dan format disk yang digunakan.
Homelab yang Digunakan
Pengujian menggunakan dua node Proxmox:
pve-nakivo sebagai source
pve-nakivo2 sebagai destination
Ceph RBD sebagai backend storage
VM test1 sebagai objek replikasi
Replikasi dijalankan dari pve-nakivo menuju pve-nakivo2 melalui schedule NAKIVO.
Hasil Pengujian
Pengujian dilakukan dengan urutan berikut:
Replikasi pertama dijalankan saat VM menyala.
NAKIVO menjalankan full replication.
VM kemudian di-reboot.
Schedule replikasi berikutnya kembali berjalan.
Replikasi kedua juga dijalankan secara full.
Pada job kedua, muncul warning:
Proxmox VE CBT data was not provided for the “test1” VM.
Kemudian NAKIVO menampilkan informasi:
Cannot perform incremental replication of the “test1” VM.
Artinya, schedule replikasi tetap berjalan. Namun, NAKIVO tidak dapat melanjutkan incremental replication karena informasi perubahan disk sebelumnya tidak tersedia.
Penyebabnya
CBT digunakan untuk mencatat blok disk yang berubah sejak replikasi terakhir. Dengan informasi tersebut, NAKIVO hanya perlu mengirimkan data yang berubah.
Menurut dokumentasi NAKIVO:
Disk format QEMU/QCOW2 memiliki dirty bitmap yang persistent.
Disk format RAW atau VMDK menggunakan dirty bitmap non-persistent.
Reboot VM dengan disk RAW akan me-reset dirty bitmap.
Pada homelab ini, disk VM disimpan pada Ceph RBD. Ceph RBD merupakan block-level storage dan VM disk menggunakan format RAW. Ketika VM reboot, data CBT di-reset sehingga NAKIVO tidak mendapatkan informasi perubahan blok yang valid.
NAKIVO kemudian mencoba menggunakan proprietary change tracking. Namun, karena informasi increment sebelumnya tidak ditemukan, NAKIVO menjalankan full replication kembali.
Pengujian Lanjutan
Untuk memastikan incremental replication berjalan normal, pengujian dapat dilanjutkan dengan skenario berikut:
Jalankan full replication.
Tambahkan data pada VM tanpa melakukan reboot.
Tunggu schedule berikutnya.
Pastikan job berjalan secara incremental.
Reboot VM dan tunggu schedule selanjutnya.
Bandingkan hasil replikasi setelah reboot.
Untuk VM yang sering reboot, opsi Use proprietary method dapat digunakan pada pengaturan Change Tracking. Metode ini tidak bergantung sepenuhnya pada native CBT Proxmox, tetapi prosesnya lebih lama karena NAKIVO perlu membaca seluruh disk untuk mencari blok yang berubah.
QEMU Guest Agent tetap perlu dipasang untuk proses snapshot dan quiescing guest OS, tetapi tidak dapat mencegah CBT ter-reset setelah VM reboot.
Kesimpulan
Schedule replikasi tetap berjalan meskipun VM sempat reboot. Namun, pada VM yang menggunakan Ceph RBD dengan format RAW, reboot dapat me-reset CBT sehingga incremental replication tidak dapat dilanjutkan dan NAKIVO kembali menjalankan full replication.
Kondisi ini merupakan limitasi native CBT pada disk RAW, bukan kegagalan schedule replikasi.
Saat mencari bahan bacaan seputar Proxmox, saya menemukan halaman Mr.PlanB yang membahas berbagai teknologi storage. Dari sana, saya menyadari bahwa memilih storage sebaiknya tidak dimulai dari pertanyaan “Teknologi mana yang paling bagus?”, tetapi dari “Storage ini akan digunakan untuk kebutuhan apa?”
Proxmox VE mendukung storage lokal maupun shared storage. VM dan container dapat ditempatkan pada directory, LVM-thin, ZFS, NFS, iSCSI, hingga Ceph. Banyaknya pilihan tersebut bukan berarti kita harus menggunakan semuanya. Kita cukup memilih arsitektur yang sesuai dengan jumlah node, workload, performa, dan kebutuhan ketersediaan layanan.
Mulai dari kebutuhan
Pada fitur storage picker milik Mr.PlanB, pemilihan storage dimulai dari tiga pertanyaan:
Berapa jumlah node yang digunakan?
Apa platform utamanya?
Apa prioritas utama storage tersebut?
Prioritasnya dibagi menjadi integritas data, kemudahan penggunaan, scalability dan high availability, serta backup dan archive. Kebutuhan performa, kapasitas, dan redundancy juga tetap menjadi pertimbangan.
Untuk lingkungan Proxmox, variabel tersebut dapat disederhanakan menjadi:
Pertimbangan
Variabel
Jumlah node
Single node, cluster kecil, atau cluster besar.
Jenis workload
VM pengujian, file server, database, atau layanan production.
Availability
Layanan harus tetap berjalan saat node gagal.
Performa
Apakah workload membutuhkan IOPS atau throughput tinggi.
Pengelolaan
Seberapa kompleks storage yang mampu kita rawat.
Backup
Bagaimana data dipulihkan ketika VM terhapus atau rusak.
1. Storage lokal untuk single node
Untuk Proxmox single node, storage lokal biasanya sudah mencukupi.
Pilihan yang dapat digunakan antara lain:
Directory untuk ISO, template, backup, dan disk VM
LVM-thin untuk disk VM dan container
ZFS untuk snapshot, compression, checksum, dan integritas data
Directory dan LVM-thin cocok untuk memulai homelab karena konfigurasinya sederhana. Sementara itu, ZFS menarik ketika kita ingin mempelajari pengelolaan pool, snapshot, compression, serta perlindungan data berbasis checksum.
Mr.PlanB menempatkan ZFS sebagai pilihan yang kuat untuk integritas data dan menyebutnya sebagai fondasi yang banyak digunakan pada homelab Proxmox maupun TrueNAS.
Contoh penggunaan:
Satu server Proxmox untuk belajar
Beberapa VM dan container internal
Media server atau server pengujian
Workload yang tidak membutuhkan failover otomatis
2. Cluster kecil: storage lokal atau shared NAS
Ketika menggunakan dua atau tiga node Proxmox, kita memiliki beberapa pilihan.
ZFS Replication
Setiap node menggunakan storage ZFS lokal, kemudian disk VM direplikasi ke node lain berdasarkan jadwal.
Kelebihannya:
Arsitektur lebih sederhana
Tidak membutuhkan shared storage
Cocok untuk cluster kecil
Mengurangi waktu migrasi karena salinan disk sudah tersedia pada node tujuan
Namun, replication berjalan secara asynchronous. Jika node gagal sebelum proses replication berikutnya selesai, perubahan terbaru masih mungkin hilang.
NFS atau iSCSI
Kita juga dapat menggunakan NAS atau SAN sebagai shared storage:
NFS menyediakan file storage melalui jaringan dan relatif mudah dikelola.
iSCSI menyediakan block storage melalui jaringan dan umum digunakan untuk virtualisasi.
Shared storage memungkinkan beberapa node mengakses storage yang sama. Namun, server NAS, SAN, dan jaringan storage harus dirancang dengan baik agar tidak menjadi titik kegagalan tunggal. Proxmox secara resmi mendukung VM pada shared storage seperti NFS dan iSCSI.
Contoh penggunaan:
Homelab tiga node dengan NAS terpisah
Cluster kantor kecil
Infrastruktur yang sudah memiliki NAS atau SAN
3. Scale dan High Availability dengan Ceph
Untuk cluster production dengan beberapa node, kebutuhan storage biasanya tidak lagi hanya soal kapasitas. Storage juga harus tetap tersedia ketika disk atau node mengalami kegagalan.
Di sinilah Ceph dapat dipertimbangkan.
Ceph merupakan distributed storage yang menyediakan block, object, dan file storage. Data didistribusikan ke beberapa node sehingga storage dapat berkembang secara horizontal dan melakukan pemulihan ketika terjadi kegagalan.
Pada Proxmox, Ceph cocok ketika kita membutuhkan:
Shared storage terdistribusi
High availability
Live migration yang cepat
Penambahan kapasitas melalui node baru
Tidak bergantung pada satu server NAS
Namun, Ceph membutuhkan lebih banyak node, disk, jaringan cepat, monitoring, dan kemampuan troubleshooting. Untuk homelab kecil, ZFS Replication sering lebih mudah dirawat. Artikel komunitas Mr.PlanB menggambarkan ZFS sebagai pilihan praktis untuk cluster kecil, sedangkan Ceph lebih sesuai ketika kebutuhan scale dan HA memang sebanding dengan kompleksitasnya.
4. Backup tetap menggunakan PBS
Apa pun storage utama yang dipilih, kita tetap membutuhkan backup.
Untuk Proxmox, pilihan yang paling sesuai adalah Proxmox Backup Server karena terintegrasi langsung dengan Proxmox VE dan mendukung backup VM, container, serta physical host.
PBS menyediakan:
Incremental backup
Deduplication
Compression
Verifikasi integritas
Client-side encryption
Sinkronisasi datastore ke lokasi lain
Backup dikirim secara incremental dan dideduplicasi pada server sehingga penggunaan storage dan jaringan dapat ditekan.
Replication, RAID, ZFS, dan Ceph tidak menggantikan backup. Data yang terhapus, rusak, atau terkena kesalahan konfigurasi tetap memerlukan recovery point yang terpisah.
Rangkuman pilihan untuk Proxmox
Skenario
Pilihan awal
Homelab single node
Directory, LVM-thin, atau ZFS
Homelab dengan fokus integritas data
ZFS
Cluster kecil 2–3 node
ZFS Replication atau shared NFS
Sudah memiliki NAS/SAN
NFS atau iSCSI
Production multi-node dengan HA
Ceph
Backup VM dan container
Proxmox Backup Server
Backup di lokasi lain
PBS Remote dan Sync Job
Platform lain tentu memiliki pendekatan berbeda. Kubernetes, misalnya, dapat menggunakan Longhorn atau Rook-Ceph, sedangkan bare metal dan NAS dapat menggunakan ZFS, Unraid, NFS, atau iSCSI. Namun, untuk lingkungan Proxmox, pilihan umumnya tetap berputar pada storage lokal, shared storage, distributed storage, dan backup terpisah.
Kesimpulan
Tidak ada satu storage yang terbaik untuk semua kondisi.
Untuk homelab, pilihan sederhana seperti LVM-thin, ZFS, NFS, atau ZFS Replication sering sudah mencukupi. Pada skala production, kebutuhan shared storage, high availability, performa, redundancy, dan kemampuan recovery menjadi lebih penting sehingga NFS, iSCSI, atau Ceph dapat dipertimbangkan.
Menurut saya, storage terbaik bukan storage dengan teknologi paling rumit, tetapi storage yang sesuai dengan workload dan masih dapat kita kelola dengan baik.
Mulailah dari kebutuhan, ukur kemampuan hardware dan jaringan, kemudian pastikan seluruh VM dan container tetap memiliki backup terpisah di Proxmox Backup Server.