Hari ini saya sedang oprek tentang lvm thin dan menempatkan /opt pada disk terpisah sebelum instalasi Carbonio. Untuk itu, disk tambahan 30 GB (/dev/xvdb) saya gunakan sebagai LVM thin pool, lalu saya buat thin volume bernama opt. Volume tersebut diformat dengan ext4 dan di-mount ke /opt. Jadi, filesystem dibuat di atas thin volume. Disk OS tetap berada di /dev/xvda.
Sebelum mulai, pastikan /dev/xvdb benar-benar disk kosong dan /opt belum berisi aplikasi. Perintah pvcreate dapat merusak data jika dijalankan pada disk atau volume yang tidak sesuai.
1. Periksa disk dan direktori /opt
lsblk -f
findmnt --mountpoint /opt
ls -la /opt
Pastikan /dev/xvdb adalah disk tambahan yang kosong dan /opt belum berisi aplikasi. Jangan lanjut jika ada data yang perlu dipertahankan.
Disk 30 GB tersebut sekarang memiliki volume group vgthin dengan thin pool 24 GB.
3. Buat thin volume untuk /opt
lvcreate -V 24G -T vgthin/pool -n opt
Ukuran virtual volume opt adalah 24 GB, sama dengan ukuran pool. Jadi, contoh ini memakai LVM thin, tetapi belum mengalokasikan ukuran virtual melebihi pool.
Saat mencari bahan bacaan seputar Proxmox, saya menemukan halaman Mr.PlanB yang membahas berbagai teknologi storage. Dari sana, saya menyadari bahwa memilih storage sebaiknya tidak dimulai dari pertanyaan “Teknologi mana yang paling bagus?”, tetapi dari “Storage ini akan digunakan untuk kebutuhan apa?”
Proxmox VE mendukung storage lokal maupun shared storage. VM dan container dapat ditempatkan pada directory, LVM-thin, ZFS, NFS, iSCSI, hingga Ceph. Banyaknya pilihan tersebut bukan berarti kita harus menggunakan semuanya. Kita cukup memilih arsitektur yang sesuai dengan jumlah node, workload, performa, dan kebutuhan ketersediaan layanan.
Mulai dari kebutuhan
Pada fitur storage picker milik Mr.PlanB, pemilihan storage dimulai dari tiga pertanyaan:
Berapa jumlah node yang digunakan?
Apa platform utamanya?
Apa prioritas utama storage tersebut?
Prioritasnya dibagi menjadi integritas data, kemudahan penggunaan, scalability dan high availability, serta backup dan archive. Kebutuhan performa, kapasitas, dan redundancy juga tetap menjadi pertimbangan.
Untuk lingkungan Proxmox, variabel tersebut dapat disederhanakan menjadi:
Pertimbangan
Variabel
Jumlah node
Single node, cluster kecil, atau cluster besar.
Jenis workload
VM pengujian, file server, database, atau layanan production.
Availability
Layanan harus tetap berjalan saat node gagal.
Performa
Apakah workload membutuhkan IOPS atau throughput tinggi.
Pengelolaan
Seberapa kompleks storage yang mampu kita rawat.
Backup
Bagaimana data dipulihkan ketika VM terhapus atau rusak.
1. Storage lokal untuk single node
Untuk Proxmox single node, storage lokal biasanya sudah mencukupi.
Pilihan yang dapat digunakan antara lain:
Directory untuk ISO, template, backup, dan disk VM
LVM-thin untuk disk VM dan container
ZFS untuk snapshot, compression, checksum, dan integritas data
Directory dan LVM-thin cocok untuk memulai homelab karena konfigurasinya sederhana. Sementara itu, ZFS menarik ketika kita ingin mempelajari pengelolaan pool, snapshot, compression, serta perlindungan data berbasis checksum.
Mr.PlanB menempatkan ZFS sebagai pilihan yang kuat untuk integritas data dan menyebutnya sebagai fondasi yang banyak digunakan pada homelab Proxmox maupun TrueNAS.
Contoh penggunaan:
Satu server Proxmox untuk belajar
Beberapa VM dan container internal
Media server atau server pengujian
Workload yang tidak membutuhkan failover otomatis
2. Cluster kecil: storage lokal atau shared NAS
Ketika menggunakan dua atau tiga node Proxmox, kita memiliki beberapa pilihan.
ZFS Replication
Setiap node menggunakan storage ZFS lokal, kemudian disk VM direplikasi ke node lain berdasarkan jadwal.
Kelebihannya:
Arsitektur lebih sederhana
Tidak membutuhkan shared storage
Cocok untuk cluster kecil
Mengurangi waktu migrasi karena salinan disk sudah tersedia pada node tujuan
Namun, replication berjalan secara asynchronous. Jika node gagal sebelum proses replication berikutnya selesai, perubahan terbaru masih mungkin hilang.
NFS atau iSCSI
Kita juga dapat menggunakan NAS atau SAN sebagai shared storage:
NFS menyediakan file storage melalui jaringan dan relatif mudah dikelola.
iSCSI menyediakan block storage melalui jaringan dan umum digunakan untuk virtualisasi.
Shared storage memungkinkan beberapa node mengakses storage yang sama. Namun, server NAS, SAN, dan jaringan storage harus dirancang dengan baik agar tidak menjadi titik kegagalan tunggal. Proxmox secara resmi mendukung VM pada shared storage seperti NFS dan iSCSI.
Contoh penggunaan:
Homelab tiga node dengan NAS terpisah
Cluster kantor kecil
Infrastruktur yang sudah memiliki NAS atau SAN
3. Scale dan High Availability dengan Ceph
Untuk cluster production dengan beberapa node, kebutuhan storage biasanya tidak lagi hanya soal kapasitas. Storage juga harus tetap tersedia ketika disk atau node mengalami kegagalan.
Di sinilah Ceph dapat dipertimbangkan.
Ceph merupakan distributed storage yang menyediakan block, object, dan file storage. Data didistribusikan ke beberapa node sehingga storage dapat berkembang secara horizontal dan melakukan pemulihan ketika terjadi kegagalan.
Pada Proxmox, Ceph cocok ketika kita membutuhkan:
Shared storage terdistribusi
High availability
Live migration yang cepat
Penambahan kapasitas melalui node baru
Tidak bergantung pada satu server NAS
Namun, Ceph membutuhkan lebih banyak node, disk, jaringan cepat, monitoring, dan kemampuan troubleshooting. Untuk homelab kecil, ZFS Replication sering lebih mudah dirawat. Artikel komunitas Mr.PlanB menggambarkan ZFS sebagai pilihan praktis untuk cluster kecil, sedangkan Ceph lebih sesuai ketika kebutuhan scale dan HA memang sebanding dengan kompleksitasnya.
4. Backup tetap menggunakan PBS
Apa pun storage utama yang dipilih, kita tetap membutuhkan backup.
Untuk Proxmox, pilihan yang paling sesuai adalah Proxmox Backup Server karena terintegrasi langsung dengan Proxmox VE dan mendukung backup VM, container, serta physical host.
PBS menyediakan:
Incremental backup
Deduplication
Compression
Verifikasi integritas
Client-side encryption
Sinkronisasi datastore ke lokasi lain
Backup dikirim secara incremental dan dideduplicasi pada server sehingga penggunaan storage dan jaringan dapat ditekan.
Replication, RAID, ZFS, dan Ceph tidak menggantikan backup. Data yang terhapus, rusak, atau terkena kesalahan konfigurasi tetap memerlukan recovery point yang terpisah.
Rangkuman pilihan untuk Proxmox
Skenario
Pilihan awal
Homelab single node
Directory, LVM-thin, atau ZFS
Homelab dengan fokus integritas data
ZFS
Cluster kecil 2–3 node
ZFS Replication atau shared NFS
Sudah memiliki NAS/SAN
NFS atau iSCSI
Production multi-node dengan HA
Ceph
Backup VM dan container
Proxmox Backup Server
Backup di lokasi lain
PBS Remote dan Sync Job
Platform lain tentu memiliki pendekatan berbeda. Kubernetes, misalnya, dapat menggunakan Longhorn atau Rook-Ceph, sedangkan bare metal dan NAS dapat menggunakan ZFS, Unraid, NFS, atau iSCSI. Namun, untuk lingkungan Proxmox, pilihan umumnya tetap berputar pada storage lokal, shared storage, distributed storage, dan backup terpisah.
Kesimpulan
Tidak ada satu storage yang terbaik untuk semua kondisi.
Untuk homelab, pilihan sederhana seperti LVM-thin, ZFS, NFS, atau ZFS Replication sering sudah mencukupi. Pada skala production, kebutuhan shared storage, high availability, performa, redundancy, dan kemampuan recovery menjadi lebih penting sehingga NFS, iSCSI, atau Ceph dapat dipertimbangkan.
Menurut saya, storage terbaik bukan storage dengan teknologi paling rumit, tetapi storage yang sesuai dengan workload dan masih dapat kita kelola dengan baik.
Mulailah dari kebutuhan, ukur kemampuan hardware dan jaringan, kemudian pastikan seluruh VM dan container tetap memiliki backup terpisah di Proxmox Backup Server.