Salah satu keuntungan menggunakan Proxmox VE sebagai hypervisor adalah fleksibilitas konfigurasi jaringannya. Kita bisa membuat bonding antar NIC fisik untuk mendapatkan redundansi atau agregasi bandwidth, lalu menempatkan bridge virtual di atasnya agar bisa dipakai oleh VM. Di tulisan ini saya akan dokumentasikan prosesnya step by step, mulai dari kondisi awal sampai bridge baru siap digunakan oleh VM.
Kondisi Awal Jaringan
Node Proxmox saya (rafi1) sudah punya beberapa antarmuka jaringan yang aktif. Tiga NIC fisik pertama sudah terpasang masing-masing ke bridge Linux tersendiri:
ens18→vmbr0ens19→vmbr1ens20→vmbr2
Kemudian saya menambahkan 2 NIC, kedua NIC ini akan saya gabungkan menggunakan Linux Bond, lalu di atasnya saya buatkan sebuah bridge baru.
Add -> Network Device

Klik Add (biarkan default)

ens 21 dan ens 22 siap di bond

Mengapa Menggunakan Linux Bond?
Linux Bonding memungkinkan kita menggabungkan dua atau lebih NIC fisik menjadi satu antarmuka logis. Ada beberapa mode yang tersedia, dan masing-masing punya karakteristik berbeda. Mode balance-rr (round-robin) bekerja dengan mendistribusikan paket secara bergantian ke semua slave interface. Hasilnya adalah peningkatan throughput sekaligus toleransi terhadap kegagalan salah satu link.
Langkah 1: Membuat Linux Bond
Dari panel navigasi Proxmox, buka System → Network pada node yang dituju. Klik tombol Create lalu pilih Linux Bond.

Isi konfigurasi bonding dengan parameter berikut:
- Name:
bond0 - Slaves:
ens21 ens22(pisahkan dengan spasi) - Mode:
balance-rr - Autostart: aktifkan

Tidak perlu mengisi IP/CIDR di sini karena bond ini akan berfungsi sebagai port untuk bridge, bukan sebagai antarmuka yang berdiri sendiri dengan alamat IP. Klik Create.
Catatan: Jangan assign IP langsung ke bond interface jika bond tersebut akan digunakan sebagai bridge port. IP sebaiknya dilekatkan ke bridge-nya saja, bukan ke slave-nya. Ini menghindari konflik routing dan perilaku yang tidak terduga.
Langkah 2: Apply Configuration
Setelah bond dibuat, Proxmox akan menampilkan notifikasi Pending changes di bagian bawah halaman Network. Ini adalah diff dari file /etc/network/interfaces yang akan diterapkan. Proxmox menggunakan pendekatan ini agar kita bisa review perubahan sebelum diterapkan, sehingga risiko kehilangan koneksi ke node bisa diminimalkan.

Klik tombol Apply Configuration untuk menerapkan perubahan tanpa harus reboot. Proxmox akan memanggil ifupdown2 di balik layar untuk mengaktifkan konfigurasi baru secara live.
Setelah berhasil, bond0 akan muncul di daftar dengan tipe Linux Bond, status Active: No (karena belum ada traffic atau bridge yang menggunakannya), dan kolom Ports/Slaves menampilkan ens21 ens22.
Langkah 3: Membuat Linux Bridge di Atas Bond
Sekarang saatnya membuat bridge yang akan digunakan oleh VM. Klik Create → Linux Bridge, lalu isi dengan konfigurasi berikut:
- Name:
vmbr3 - IPv4/CIDR:
192.168.14.31/24(local) - Bridge ports:
bond0 - Autostart: aktifkan
- VLAN aware: aktifkan

Beberapa poin penting dari konfigurasi ini:
- Gateway tidak diisi. Karena ini bukan interface manajemen utama, gateway tidak diperlukan di sini. Jika diisi sembarangan, bisa menyebabkan konflik default route dengan interface manajemen yang sudah ada.
- VLAN aware diaktifkan. Ini adalah best practice di Proxmox. Dengan VLAN aware bridge, kita bisa mengatur VLAN tag langsung dari konfigurasi VM tanpa perlu membuat bridge terpisah untuk setiap VLAN. Range default VLAN ID yang diizinkan adalah 2-4094.
- Bridge port diisi dengan
bond0, bukan NIC fisik langsung. Ini yang membedakan dengan setup sebelumnya. Alih-alih menghubungkan bridge langsung ke NIC, kita melapisinya dengan bond terlebih dahulu sehingga bridge mendapat manfaat dari bonding.
Ringkasan Arsitektur
Setelah semua langkah selesai, arsitektur jaringan pada node rafi1 menjadi seperti ini:
ens21 ─┐
├─► bond0 (balance-rr) ─► vmbr3 (IP, VLAN aware)
ens22 ─┘
VM yang terhubung ke vmbr3 akan menggunakan kedua NIC fisik secara bergantian, sehingga mendapatkan bandwidth yang lebih besar dan tetap terhubung selama salah satu link masih hidup.
Hal yang Perlu Diperhatikan
Balance-rr mendistribusikan paket secara round-robin di level paket, bukan per-flow. Ini bisa menyebabkan paket tiba di tujuan dengan urutan yang tidak sesuai, yang pada beberapa skenario bisa menurunkan performa TCP. Jika switch mendukung LACP, pertimbangkan untuk beralih ke mode 802.3ad dengan hash policy layer2+3 atau layer3+4 agar distribusi traffic lebih stabil dan tidak mengganggu urutan paket.
Selain itu, pastikan kedua NIC slave (ens21 dan ens22) terhubung ke switch yang sama atau trunk yang sama agar bonding bekerja dengan benar. Bonding lintas switch (multi-chassis) membutuhkan konfigurasi tambahan di level switch yang lebih kompleks.
Penutup
Untuk selanjutnya, mungkin saya akan menulis bagaimana setup network bridge tersebut agar support VLAN dengan setup VLAN 20. Kemudian untuk setup Proxmox SDN (menggunakan vxlan). Terakhir, coba aplikasikan network pada lxc dan kvm yang ada. Terima kasih sudah membaca.


Leave a Reply