Cicak di Dinding

Waktu kecil kita semua hafal lagu cicak yang merayap pelan di dinding, lalu datang nyamuk dan langsung disambar. Lagu sederhana, tapi kalau direnungkan lagi sebagai orang dewasa, ada satu hal yang menarik.

Cicak tidak bisa terbang. Gerakannya lambat, cuma merayap, menempel di dinding. Sementara mangsanya, nyamuk, punya sayap dan bisa terbang bebas. Secara logika, harusnya cicak kesulitan. Tapi kenyataannya cicak tetap kenyang. Nyamuk yang lincah itu tetap saja masuk ke mulutnya.

Buat saya, ini gambaran yang pas soal rezeki. Yang sudah jadi bagian kita akan sampai juga dengan caranya sendiri, sekalipun lewat jalan yang tidak masuk akal. Kita sering merasa kalah saing, merasa orang lain lebih cepat dan lebih lincah, lalu khawatir bagian kita keduluan diambil. Padahal cicak menunjukkan sebaliknya.

Tapi bukan berarti diam saja. Cicak tetap merayap, tetap mengincar, tetap menyergap di waktu yang tepat. Ia tidak menganga menunggu nyamuk jatuh sendiri. Artinya, percaya rezeki sudah ada bagiannya bukan alasan untuk malas. Diamnya cicak di dinding itu juga bentuk usaha, bukan pasrah total.

Jadi lain kali kalau kalian lihat cicak menempel di dinding, ingat lagi pelajaran sederhananya. Yang tidak bisa terbang tetap bisa makan yang bersayap. Tugas kita cuma satu: terus berusaha di posisi masing-masing.

Comments

2 responses to “Cicak di Dinding”

  1. Ahmad Imanudin Avatar

    Cicak emang idealnya di dinding. Kalo di dendeng, sepertinya kurang enak. Eh, ngga tau juga sih. Belum pernah. Wkwkwkwk

    1. Rafi Harlianto Avatar

      Cobain dulu Om siapatau lezat… Tapi kalo cicaknya ke dondong juga bisa jadi asinan Om hehe.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *