Hari ini saya ditugaskan untuk mencoba LVM Thin. Sembari saya oprek dan testing, saya mencari tahu dulu cara kerjanya secara sederhana, terutama perbedaan antara ukuran volume yang terlihat dan ruang disk yang benar-benar dipakai.
Dasar LVM
LVM adalah cara Linux mengelola ruang penyimpanan. Ada tiga istilah yang perlu dikenali:
| Istilah | Artinya |
|---|---|
| PV (physical volume) | Disk atau partisi yang disiapkan untuk LVM. |
| VG (volume group) | Tempat mengumpulkan ruang dari PV. |
| LV (logical volume) | Volume yang dibuat dari ruang VG. |
Urutannya adalah PV → VG → LV. Pada LVM Thin, ada satu bagian tambahan bernama thin pool. Pool ini dibuat dari ruang VG dan menjadi tempat thin volume mengambil ruang untuk menyimpan data.
Apa bedanya dengan LV biasa?
| LV biasa | LVM Thin |
|---|---|
| Ruang sebesar ukuran LV disediakan saat LV dibuat. | Thin volume memiliki ukuran yang terlihat oleh sistem, tetapi ruang di pool dipakai saat data ditulis. |
| Ruang untuk LV diambil langsung dari VG. | Ruang untuk thin volume diambil dari thin pool. |
Ukuran yang terlihat pada thin volume disebut ukuran virtual. Jadi, ketika sebuah thin volume terlihat memiliki kapasitas tertentu, belum tentu sebanyak itu ruang fisik di thin pool sudah terpakai.
Hal yang sempat membuat saya bingung adalah thin pool dan thin volume memakai ruang pada tahap yang berbeda. Thin pool mengambil ruang dari VG saat dibuat. Setelah itu, thin volume memakai ruang di dalam pool saat data ditulis. Karena itulah ruang kosong pada VG tidak sama dengan ruang kosong di thin pool.
Kesimpulan
Sejauh yang saya pahami, LVM Thin memungkinkan volume dibuat tanpa langsung memakai seluruh ukuran virtualnya sebagai ruang penyimpanan data. Ruang fisik tetap memiliki batas, jadi ukuran volume yang terlihat perlu dibedakan dari ruang yang tersedia di thin pool. Ini dasar yang ingin saya pahami sebelum melanjutkan praktik.


Leave a Reply